Rabu, 08 Februari 2012

4 Situasi Haruma dan Takeru Bertemu Untuk Pertama Kalinya

4 Situasi Haruma dan Takeru Bertemu Untuk Pertama Kalinya


Fandom : AMUSE
Pairing : Haruma/ takeru
Genre : Romance
Warning : Shonen-ai  AU
Rating : Pg
Disclaimer : Sato Takeru and Haruma Miura belongs to Amuse and themselves.


1.

    Boyband? Yang benar saja. Takeru menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Tak pernah sekalipun ia terpikir menjadi anggota dari sebuah boyband. Ini bukan masalah kostum konyol atau apa, oke kostum konyol itu juga salah satu alasannya. Tapi alasan yang paling utama tentu saja ia diharuskan bisa menyanyi dan menari dalam waktu bersamaan. Urusan suara mungkin ia masih bisa berbangga dengan suaranya yang setidaknya layak didengar. Tapi menari? Uh, tak terbayang deh. Pasti dia terlihat paling aneh dan amatir di antara yang lain. Besok ia harus bilang pada manajernya kalau ia menolak tawaran itu. Yup. Harus. Semoga saja manajer-san tidak marah padanya.
--
    "Ah, Takeru, kau sudah datang rupanya. Perkenalkan ini Haruma Miura-san. Ia akan menjadi salah satu anggota Amuse Boys." jelas managernya dengan cepat sambil menepuk-nepuk bahu pemuda di sebelahnya. Takeru hanya dapat mengangguk pada ikemen yang sedang tersenyum lebar itu. "Haruma Miura. Mohon bimbingannya." pemuda itu menyodorkan tangan ke arah Takeru. "A-ah. Sato Takeru. Mohon bimbingannya." Takeru menyambut tangan Haruma.

    'Tampaknya menjadi anggota boyband tidak ada salahnya juga' kata Takeru dalam hati.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2.

    "Nii-san! NII SAN!"teriak Kamiki setelah sukses membuka pintu kamar Haruma dengan brutal. Haruma terlonjak dari ranjang kemudian melemparkan tatapan apa-yang-kau-inginkan-anak-muda-jangan-ganggu-aku-kalau-kau-masih-mau-hidup ke arah Kamiki yang tanpa merasa bersalah duduk di ujung ranjang.
"Apa?!" tanya Haruma kesal. Ia mengutuk dirinya sendiri kenapa sampai lupa mengunci pintu kamar. Dengan wajah cemberut, Kamiki menunjukkan sikunya yang berdarah . "Kau berkelahi?" tanya Haruma,
kekesalannya berganti rasa khawatir. Panggil dia brother complex. Tapi tidak ada yang boleh berani macam-macam dengan adiknya. "Dia mendorongku duluan!" adu Kamiki.

    "Ck, siapa namanya?" "Shogo. Temanku sekelas." jawab Kamiki. Shogo? Yang mana ya? Apa ia pernah main ke sini?  Haruma berusaha mengingat sosok Shogo."Shogo yang Kamiki taksir. Siapa lagi." suara Dori membuat Kamiki dan Haruma menoleh ke pintu kamar. "Aku tidak suka padanya!" sangkal Kamiki cepat. Dori mengibaskan tangan, tanda tak percaya, kemudian berjalan ke arah kamarnya. Kamiki menguntiti langkahnya sambil terus meracau kalau ia tidak suka Shogo.

    Haruma hanya dapat menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua adik lelakinya. Ia berniat melanjutkan tidurnya yang terganggu, namun rasa penasaran menghalanginya. Hmm, Shogo, Shogo. Ah, Shogo yang gingsul itu? Oh begitu toh tipe Kamiki. Well, meski ia tak tau apakah perkataan Dori itu benar atau tidak mungkin lebih baik ia selidiki dulu si Shogo ini. Tidak ada salahnya kan?

---
    "Shogo?" Haruma memastikan. Anak lelaki sepantaran adiknya itu mengangguk dan menatapnya dengan agak bingung. "Ano, Miura-san kan?" Haruma mengangguk puas. Ternyata Shogo masih mengingatnya. "Ada apa ya?" tanya Shogo sopan. "....Ini masalah kema-" "Shogo!" teriakan seseorang memotong ucapan Haruma. Seorang pemuda menyodorkan bekal makanan ke Shogo. "Berapa kali aku harus mengingatkan mu hah?" pemuda itu mencak-mencak, sementara Shogo hanya cengengesan dibuatnya. "Hm, siapa mu?" tanyanya saat menyadari keberadaan Haruma. "Ah, kakanya Kamiki. Kakaknya Kamiki, ini kakakku, Takeru." Shogo menjelaskan.

    "Ada apa ya?"tanya Takeru lagi. Ia kemudian berdiri di antara Haruma dan Shogo. Haruma memandang pemuda yang lebih pendek darinya itu dengan rasa ingin tahu. Apakah semua anggota keluarga mereka memang imut ya? Haruma bertanya-tanya. "Hah? Maaf?" sela Takeru dengan terkejut, alisnya bertaut.
"Eh, apakah aku mengatakannya dengan keras?" tanya Haruma yang tak kalah terkejut.

    "Aku rasa......Lupakan saja. Shogo sana masuk." Takeru mendorong Shogo melewati gerbang kemudian memandang Haruma. "Aku duluan.....kakaknya Kamiki." katanya diiringi anggukan yang dibalas Haruma dengan setengah sadar. Haruma memandang sosok Takeru yang terus menjauh meninggalkannya.
---
    Haruma berniat membeli cake kesukaan Kamiki hari ini. Tentu saja bukan untuk menyogok Kamiki agar ia dapat informasi tentang kakaknya Shogo yang manis itu. Tentu saja bukan.
 
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

3.

    Menjadi penjaga pintu itu menyebalkan. Ia serius. Bayangkan saja, ia harus mendengarkan penyesalan orang-orang, atau arwah-arwah? Ya itulah pokoknya. Mendengar ucapan 'aku belum ingin mati!', 'masih ada yang ingin ku lakukan!' atau 'aku masih muda' kemudian diiringi raungan tangis tiap hari tentu tidak baik untuk kesehatan jiwanya. Tentu saja makhluk sepertinya tidak mengenal masalah kesehatan. Tapi bukan berarti ia tidak merasa kerepotan saat ia terpaksa harus menenangkan mereka kemudian membimbing mereka ke pintu.

    Seberkas cahaya tiba-tiba berpedar di depannya. "Ah, orang pertama hari ini." Ia menyusun kalimat yang kira-kira dapat menenangkan arwah yang akan dihadapinya di dalam hati. Cahaya itu perlahan membentuk seorang pemuda yang tampak kebingungan. "A..aku di mana?"tanya pemuda itu lebih kepada dirinya sendiri. Ia menepuk bahu pemuda itu. "Kau sudah meninggal. Saatnya kau memasuki pintu." ujarnya. Ia yakin pemuda itu akan histeris dalam

    satu....dua....

    "Ah, jadi aku sudah meninggal. Baiklah, bawa aku ke pintu yang kau bicarakan itu. Meski aku sebenarnya tak mengerti juga sih." pemuda itu berkata sambil tersenyum lembut ke arahnya yang ganti kebingungan. "Kau...tidak menyesali sesuatu? Atau apa? Begitu saja?" tanyanya.
"Banyak yang ku sesali. Tapi lebih baik aku bersiap untuk hidup yang selanjutnya." jawab pemuda itu. Ia hanya dapat mengangguk mendengar tanggapan pemuda tersebut. Ia kemudian melihat catatan di tangannya.

Sato Takeru. 20 tahun. Pintu 4.

    'Pintu 4? Yang benar saja. Pemuda yang kelihatannya lemah ini?' ia bertanya-tanya dalam hati. "Ikuti aku, Takeru-san." ia berjalan menuju pintu 4 dan membukakan pintu itu. "Terima kasih.." pemuda itu lalu melirik tanda nama di bajunya sekilas "Haruma-san. Ku harap kita dapat bertemu lagi." sambungnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir pucatnya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

4.

    Takeru sibuk mencari pensil satu-satunya di kotak pensil berwarna krim miliknya. Namun nihil. Pensilnya hilang tak berbekas. Ia yakin 100% ia masih melihat pensilnya saat di sekolah. Mampus. Mampus. Mampus. Mati dia. Takeru mulai panik dan melirik kanan kirinya. Teman-teman satu bimbelnya terlihat sibuk mengerjakan soal ujian. Takeru menciut. Tak enak rasanya menganggu mereka. Tapi kalau begini caranya ia tak bisa mengerjakan soal sama sekali.

    Sebatang pensil tiba-tiba tersodor dari samping. Takeru menoleh ke pemuda yang memberikannya pensil itu. Haruma-san tampak tersenyum dan berkata tanpa suara 'pakai saja' . Dengan perasaan lega ia mengambil pensil tersebut, tak lupa menggumamkan terima kasih ke arah Haruma-san yang mengangguk dan kemudian kembali menekuni soal di depannya. 


------------------------------------------------------------------------------------------------------------



A.N : Hanya kumpulan ide-ide yang kestuck di otak :P yang nomor 3 definitely gara-gara 49 days hahaha..

1 komentar:

Anonim mengatakan...

halo, gw lily
fanficnya bagus banget xD

Gw mau minta ijin untuk translate ini ke inggris dan publis di tumblr. Pasti pake kredit dan link untuk ke blog ini juga. Sekalian sm fanfic harutake kamu yg 1 lg (memories: waiting)
kalo boleh, nanti gw akan publish pakai akun tumblr lilysato.tumblr.com

Ditunggu ya jawabannya, secepetnya. Arigatou xD

Posting Komentar

 

Template by Web Hosting Reviews