Selasa, 28 Februari 2012

Betrayal - Drabble -

Tak pernah terlintas di pikirannya sekalipun bahwa ia akan mencintai dua orang dalam waktu bersamaan dan menjalin kasih bersama keduanya di waktu yang bersamaan pula. Tak pernah ia berpikir bahwa suatu saat ia akan mendua, tak pernah.
---------------------
Author: moodyasari
Rating: PG-13 ( Karena katanya, katanya ya, pendeskripsian saya yang ehem *digeplak* )
Warning: Shounen-ai. Yaoi.Ooc(?)
Genre: Romance
Pairing : Wada Takuma x Mitsuya Ryo
Disclaimer: They're not mine. Never be mine.
---------------------

  “Andai saja-,” Kuma mengecup bibir Micchi sekilas”-aku bisa melakukan ini di depan semua orang.” Tanpa aba-aba, Micchi merasa desir halus menjalar ke seluruh tubuhnya. Bukan hanya karena kontak fisik yang terjadi dengan pemuda tampan di depannya. Tapi juga karena tatapan mata pemuda yang bersangkutan membuat ia ingin menyembunyikan dirinya, saat itu juga. Tatapan itu bukan tatapan lembut penuh cinta. Tatapan yang ditujukkan padanya itu hanya bisa dideskripsikan dengan satu kata, yang ia yakin akan membuat orang lain mentertawakannya, karena kata itu tak mungkin diasosiasikan dengan Kuma. Iya itu bukan salah mereka sih. Mana mereka tau kalau Kuma di balik pintu itu…berbahaya.
  “Apa yang kau pikirkan?”tanya Kuma lirih, seakan tak mau merusak keheningan di antara mereka. Micchi menggeleng pelan dan membuang mukanya ke samping. Ia tak mampu memandang Kuma lebih lama lagi. Kuma mengenggam dagu Micchi dan mendekat, nafasnya membelai pipi Micchi yang bersemu. “Pikirkan aku saja. Hanya aku.”
  Kuma menenggelamkan kepala di bahu Micchi, menghirup udara yang meruap dari kulit pemuda cantik itu. Micchi berusaha mendorong Kuma, membuat jarak barang sesenti. Kuma dengan cepat mendorongnya rebah di atas tempat tidur dan mengunci kedua pergelangan tangannya. Tatapan yang sama masih saja berada di mata Kuma. Micchi menggigit ujung bibirnya tanpa sadar. Sedikit takut dan, entah kenapa, senang. Ia tak pernah diperlakukan seperti ini. Kenki bukan tipe orang yang posesif. Pemuda itu santai saja saat melihat Micchi mencium pipi Tsune misalnya. Mungkin ia sudah terbiasa melihat tingkah Micchi yang memang mudah akrab dengan siapa saja.
  Pikiran Micchi buyar saat jemari yang memegang pergelangan tangannya mengerat. "Sudah ku bilang. Pikirkan aku saja. Mitsuya." geram Kuma, entah marah atau frustasi. Jantung Micchi spontan berdetak lebih cepat saat Kuma, tiba-tiba saja, mempertemukan bibir mereka. Menggigit bibir bawahnya dan menelusur masuk tanpa permisi. Ia, seorang Mitsuya Ryo, hanya bisa mengutuk dirinya sendiri, sebelum akal sehatnya terlempar entah ke mana.
---------------------

ngek, saya pasti sedang kesurupan saat membuat ini... dan 'ia akan mendua' itu dangdut sekali ya teman-teman #plak

0 komentar:

Posting Komentar

 

Template by Web Hosting Reviews