Senin, 29 Agustus 2011

Morning Routine - One Shot

Morning Routine

Author: F5 (Refresh)
Art and Editing: A4 (Paper)
Rating: PG
Warning: Twincest? Bromance?
Genre: Fluff, Family.

Disclaimer: Takagi Manpei and Shinpei belong to themselves and Stardust. We own nothing.

 Pemuda berambut coklat pemilik nama lengkap Takagi Manpei itu sudah hampir setengah jam mematut diri di depan cermin lemari. Kemeja putih bersih, celana panjang hitam serta jas berwarna sepadan dengan celana panjang yang masih tergeletak di atas kasur.


 Sesekali ia membenahi kerah kemeja, memeriksa apakah kancing kemeja di lengan telah terpasang dengan baik, dan menepuk-nepuk pinggiran celana panjang yang menggembung. Alisnya kembali berkerut-kerut ketika sekali lagi ia memandangi pantulan dirinya yang ada di cermin dari atas sampai bawah. Sudah rapi memang, tapi ada sesuatu yg kurang.

 “Ini kan?” sebuah suara tiba-tiba menyeruak dari balik pintu kamar Manpei yang setengah terbuka. Seorang pemuda berdiri di depan pintu, dengan satu tangan memegang kenop pintu dan tangan lain menggenggam benda panjang menjuntai berwarna hitam dengan corak garis-garis putih ditengahnya.

 Pintu tersebut berdecit ketika pemuda tersebut membukanya lebih lebar dan melenggang masuk ke dalam kamar Manpei. Walaupun sudah tahu bahwa suara itu milik Shinpei, tetap saja Manpei menoleh dari balik bahunya, untuk  memastikan bahwa yang masuk itu Shipei. Pun, tanpa dibuktikan itu memang Shinpei, saudara kembarnya.

 “Manpei selalu saja lupa mengenakan dasi deh.” Seloroh Shinpei ketika sudah berdiri di hadapan Manpei, tangannya  menyampirkan benda yang dibawanya tadi dibalik kerah kemeja Manpei. Dengan cekatan ia membuat simpul ditengahnya hingga terikat menjadi satu. Dasi itu kini melengkapi penampilan Manpei, menjuntai dengan serasi di atas kemeja putih yang dikenakan Manpei.

 “Tapi kan ada Shinpei yang selalu mengingatkan,” balas Manpei sambil menepuk pipi Shinpei yang ada dihadapannya. “Arigatou ne~” sambungnya lagi. Shinpei mengangkat sebelah alis.

 “Itu bukan berarti Manpei harus lupa setiap hari kan?!” katanya diiringi dngan kedua pipi yang menggembung. “Ah,tapi Manpei orangnya memang pikun sih,” cerocosnya kemudian. Manpei mendelik lalu mengarahkan satu telunjuknya ke pipi Shinpei. Menusuk-nusuk pipi saudara kembarnya itu.

 “Bilang apa tadi? Pikun? Siapa yang pikun hah? Bukannya Shinpei yang sering lupa menyetrika jasnya sendiri hinga kelabakan tiap pagi,” sahut Manpei tak mau kalah.

 “Ih, itu kan dulu!”

 “Dulu? Bukannya barusan saja lupa lagi? Ya kan?”

 “Ihh.. Manpei.” Shinpei menyikut tajam pinggang pemuda yang neniliki wajah serupa dengannya itu. “Tapi kan juga ada Manpei yang sudah menyetrikan jasnya untuk ku.. hehe..” katanya dengan senyum yang mengembang di bibir, senyum khasnya yang seperti memberikan energi tersendiri bagi Manpei.

 “Kamu ini,” Manpei tidak tahan untuk tidak mengecup pipi sudara kembarnya itu.

 “Manpei!” Shunpei terpekik perlahan

 “Hukuman karena tadi mengkopi kata-kataku.”

 Shinpei memutar bola matanya, “Kekanak-kanakan banget deh, sudah gih sana berangkat, nanti telat lho.” Shinpei mendorong tubuh Manpei, namun sebelah lengannya ditahan oleh pemuda yang lebih tua beberapa menit darinya itu.

 “Jadi…mau mencoba yang tidak kekanak-kanakan kah?”

 “MANPEI!!”



--------------------------

Paper here! Mewakili Refresh yang tak bisa online karena PCnya meledak suatu hal tertentu. Akhirnya saya mempost fanfic juga di blog ini, well bukan milik saya, tapi tetap saja namanya ‘memposting fanfic’ kan? –ditendang-. Sebenarnya ada series yang akan saya posting, tapi setelah bersemedi satu detik maka saya memutuskan untuk merombaknya habis-habisan, yah lihat saja nanti –err memangnya ada yang membaca blog ini? :p -.

---edited on 30th August 2011--

0 komentar:

Posting Komentar

 

Template by Web Hosting Reviews