Author: A4 (Paper)
Art and Editing: A4 (Paper)Rating: PG for absurdness
Warning: Absurd and random. Ah, did I mention absurd already?
Genre: Friendship. Hurt/Comfort.
Pairing : None. Hint!Past!HarumaTakeru
Disclaimer: Haruma Miura, Kamiki Ryunosuke and Sato Takeru belong to themselves and Amuse Entertainmet. I own nothing.Kamiki melihat Haruma menunggu. Ia juga menghitung, berapa lama Haruma menunggu. Sudah hampir 15 tahun. Tidak hanya melihat dan menghitung, ia juga memperhatikan. Oleh karena itu ia menyadari bahwa tahun-tahun pertama dihabiskan oleh Haruma dengan diam. Diam --bukan diam tanpa suara, hanya tak berbicara tentang semua yang telah terjadi-- dan menghindari ruang baca.
Pada tahun ke lima baru Haruma berani lagi masuk ke ruang baca. Kamiki tau betapa beratnya bagi Haruma untuk masuk ke ruang baca, tapi Kamiki juga tau Haruma itu pemberani --bukan pengecut seperti dirinya--. Jadi ia tak terkejut sama sekali saat Haruma menghabiskan tahun-tahun berikutnya di ruang baca.
Tahun ke empat belas Haruma mulai berani membuka buku-buku yang selama ini hanya ia tatap begitu saja. Kamiki ingin sekali rasanya bertepuk tangan atau mengabadikan momen itu, seorang Miura Haruma membaca buku tanpa disuruh? Sangat monumental! Tapi ia takut menyinggung Haruma, jadi ia hanya diam dan terus memperhatikan.
Ia juga tau kalau Haruma meneliti, (atau lebih tepatnya mencoba mencari pembenaran?) tentang hal itu. Haruma terkadang berbicara padanya, mengatakan itu akan terjadi dan bla bla bla. (Ia hanya mengangguk, dan terkadang membaca sekilas halaman yang di tunjukkan Haruma. Tapi kemudian ia menyangkal. Menentang teori yang dipaparkan Haruma --bukan karena ia tak setuju, hanya saja ia belum berani, belum-- dengan setengah bercanda.)
------
Kamiki juga tau hampir sebulan ini Haruma membuka buku yang sama di ruang baca, menatap halaman yang sama.
------
"Apa kau masih percaya dengan hal konyol itu?" tanyanya pelan, saat ia sedang melakukan kegiatan yang kini menjadi kebiasannya, ikut duduk bersama Haruma di ruang baca dan bertanya pertanyaan yang sama tiap kalinya.
“ 'Hal konyol itu' benar-benar nyata Kamiki. Lagipula 'dia' sudah 'ada' kok." Haruma menjawab cepat bagai anak kecil yang tak mau dibantah. Kamiki mengangkat sebelah alisnya. Hmm, jawaban berbeda dari biasanya, well, tidak terlalu berbeda dari biasanya sih, hanya ditambah Lagipula 'dia' sudah 'ada' kok, batin Kamiki. Tampaknya ada sesuatu yang terjadi , batinnya lagi.
"Kalau memang 'dia' sudah 'ada' sejak dulu, kenapa tak kau datangi?"
"Aku tidak boleh menemuinya." jawab Haruma pendek.
Kamiki menatap Haruma bingung, dan ia yakin ada tanda tanya besar tercetak di mukanya yang membuat Haruma berkata, "Karena? Karena itu menyalahi takdir. Aku harus menunggu takdir mepertemukan kami. Yah atau apapun itu yang tertulis di buku ini."
"Takdirmu bukankah kamu yang menentukan sendiri?" Kamiki membalas ucapan Haruma. Haruma hanya menatapnya dengan terkejut. Ia menatap balik Haruma dengan tajam.
"Bila kau percaya dengan renkarnasi konyol itu aku masih bisa terima Haruma. Tapi kau menuruti apa yang kau sebut takdir itu? Menuruti apa yang ada di buku usang ini? Tidak melakukan apa-apa? Kau pikir dia akan bahagia kau begini? Suudahi sajalah kalau kau akhirnya tak melakukan apa-apa, bodoh!" Ia tau ia bertindak egois. Mengatakan sesuatu sesukanya. Tapi bila Haruma saja menyerah, lalu apa yang ia, si pengecut, harus lakukan?
Kemudian ia membalikkan tubuhnya, berjalan dan menutup pintu. Ia tau kata-katanya melukai Haruma, tau kalau ia seharusnya tak kecewa pada Haruma. Kemarahan yang seharusnya bukan ia tujukan pada Haruma tapi pada dirinya sediri. Ia menghentikan langkahnya. Rasa bersalah semaking menggunung, terlintas di benaknya untuk kembali ke ruang baca. Ia tahu sekarang Haruma pasti sedang membutuhkan seseorang.
Tidak, Kamiki. Kau bukan orang yang pantas untuk melihat air mata Haruma. Desisnya pada dirinya sendiri. Hanya ada satu orang yang berhak untuk melihatnya. Untuk mengeringkannya. Dan ia betul-betul berharap Takeru kembali, meskipun itu artinya Kamiki juga harus percaya dengan hal konyol bernama renkarnasi.
--------
Paper di sini~~~ Yak maka dimulailah Memories Series~~~~ Sempat bingung menentukan genre untuk bagian ini apa, semoga saja Hurt/Comfort itu tak salah ya :)
Cheers~~
0 komentar:
Posting Komentar